Rabu, 10 Februari 2010

Sejarah Astronomi dalam Islam

Sejarah perkembangan astronomi dalam Islam

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Manusia dibekali Tuhan akal untuk berfikir dan rasa ingin tahu sebagai dasar dan motivasi untuk menjalankan fungsi akal secara maksimal. Seiring dengan pertambahnya waktu, kesadaran manusia tentang kebutuhanya terhadap ilmu pengetahuan semakin kuat. Mereka mencoba menafsirkan dan membuktikan kebenaran apa yang mereka lihat sehingga menghasilkan apa yang disebut teori. Pada masa selanjutnya teori-teori ini dikodifikasi dan kembangkan oleh orang-orang selanjutnya sampai pada masa tidak bergunanya pikiran manusia (kiamat).

Pengertian dan sejarah perkembangan astronomi dalam islam

Secara leksikal kata falak berasal dari bahasa Arab yang berarti orbiy atau garis edar,[1] sedangkan ilmu falak berarti ilmu astronomi yaitu ilmu yang mempelajari tata matahari, bulan, bintang, dan planet-planet lain[2] yang bertujuan untuk mengetahui posisi benda langit agar waktu-waktu dipermukaan bumi dapat diketahui.

Masa Nabi Muhammad dan Sahabat

Pada zaman Rasulullah saw. masih hidup, kemunculan ilmu falak memang belum masyhur dikalangan umat islam. Hal ini terekam dalam hadist Nabi saw. yang berbunyi:

حدثنا آدم: حدثنا شعبة: حدثنا الأسود بن قيس: حدثنا سعيد بن عمرو: أنه سمع ابن عمر رضي الله عنهما،
عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إنا أمة أمية، لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا)[3]

Artinya: Adam menceritakan pada kami, sya’bah menceritakan pada kami, Al-Aswad bin Qais menceritakan pada kami, sa’id bin Umar menceritakan pada kami bin Umar r.a. dari Nabi saw. besabda:”kami adalah umat yang Ummi, tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung, bulan itu seperti ini, seperti ini.

Walaupun ada sebagian dari mereka yang pandai berhitung. Sebenarnya perhitungan Hijriyah pernah dilakukan oleh Nabi saw. Ketika beliau mengirim surat kepada kaum Nasrani Bani Najran yang dalam suratnya tertulis ke-5 Hijriyah. Namun perhitungan kalender secara formal baru dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab pada tahun ke-17 Hijriyah dengan bulan Muharram sebagai awal bulannya.[4]

Masa Bani Abbasiyah

Perkembangan ilmu pengetahuan didunia islam baru terlihat sangat jelas ketika bani Abbasiyah berkuasa. Pada masa ini, menurut Nicholson dalam bukunya Literatur History of the Arabs, luaanya Daulah Abbasiyah dengan kekayaanya yang melimpah dan perdagannya yang maju, telah membuat kerajaan ini mencapai masa keemasan dalam menciptakan sebuah kebudayaan yang belum pernah ada sebelumnya. Semua orang pada masa ini dari kholifah sampai rakyat jelata mendadak menjadi pelajar/ mahasiswa yang gila ilmu pengetahuan. Orang yang keluar negri ibarat lebah yang keluar dari sangkarnya dan kembali dengan membawa sari madu. Kemudian mereka mengarang berbagai kitab yang sangat berperan penting dalam mengantarkan ilmu pengetahuan pada masa-masa sesudahnya. Hal ini tebukti dengan dibangunya berbagai ma’ahid dan maktabah diberbagai daerah seperti Kuttab(tempat pendidikan dasar), Masjid(ilmu tiingkat tinggi/tahkasus), Majlis munaadharah( tempat mambahas masalah-masalah ilmiyah), darul hikma(perpustakaan terbesar Harun Ar-Rasyid) dan Madrasah, dan adanya gerakan menerjemah berbagai kitab di seluruh pusat ilmu dunia.[5]

Pada saat itu astronomi adalah salah satu ilmu yang berkembang sangat pesat karena kaum muslim mempunyai modal cukup besar untuk mengembangkannya. Umat muslim pada waktu itu telah menyatukan ilmu bintang yang dianut bangsa Yunani, Hindia, Persia, Kaldan, dan Arab Jahiliyah

Ilmu bintang memegang peranan penting dalam menentukan garis politik oleh para Kholifah dan para Amir yang mendasarkan kerjanya pada peredaran bintang. Diantara para sarjana ilmu astronomi yang terkenal adalah:

  1. Abu Ma’syar al-Falaky/Albumasyar (wafat 272 H). Nama lengkapnya adalah abu Abdullah Muhammad bin Jabir al-Balakhy. Albumasyar adalah orang yang menemuakan adanya pasang surut air laut sebagai akibat dari posisi bulan terhadap bumi. Dua bukunya yang terkenal adalah “al-Madkhal al-Kabir” dan “Ahkam al-Sinni wa al-Mawalid” .[6]

2. al-battani(244-317 H)

Nama lengkapknya adalah abu Abdullah Muhammad bin Jabir Sinan Al-Battani al-Harrni al-Sabi.Al-battani dan Qurrah merupakan generasi penerus al-fargani dalam melakukan observasi-observasi astronomi pada sebuah observatium yang dibangun oleh al-Ma’mun seorang yang terkenal telah membangun sebuah ‘bait al-Hikmah”. Ada empat buku penting karangan al-battani yang sangat penting bagi perkembangan ilmu astronomi, yakni:

a. Kitab Ma’rifat Marali al-Buruj fi ma baina Arba’ al-falak” sebuah buku yang ilmu pengetahuan kenaikan-kenaikan tanda-tanda zodiak dalam suatu ruang diantara kuadran-kuadran sfera langit, yaitu kenaikan-kenaikan titik ekliptik yang pada saat tertentu bukan bukan salah satuu diantara empat awtad/poros. Buku tersebut memberikan suatu penyelesaian secara matematis terhadap soal-soal astrologi.

b. Risalah fi tahkik akdar al-ittisalat , sebuah uraian mengenai penentuan secara tepat kuantitas dari penerapan-penerapan astrologis berupa suatu penyelesaian trigonometris yang teliti dan tepat terhadap soal-soal astrologis dari ”Proiectic Radioum” ketika bintang-bintang mempunyai ruang gerak(terletak diluar ekliptik).

c. Syarah al-makalat al-arba’ li Batlamius, sebuah uraian dan komentar tajam terhadap tetrabilon-nya Ptolomeus.

d. Al-Ziz(astronomical Treatese and Tables), berisi uraian-uraian astronomis dan dilengkapi dengan tabel-tabel. Buku itu juga memuat hasil observasi-observasi yang pernah ia lakukan yang ternyata berengaruh besar bukan hanya terhadap astronomi arab tapi juga terhadap perkembangan astronomi dan trigonometri sferis Eropa pada abad-abad pertengahan dan pada permulaan renaissance (zaman pencerahan).

Sumbangan lain dari al-battani adalah keberhasilanya menemukan secara amat teliti garis lengkung atau kemiringan ekliptik (orbit dimana matahari kelihatan bergerak), panjangya tahun tropis (the length of the tropic year), lamanya suatu musim, dan tepatnya orbi matahari serta orbit utama plenet tersebut.

Ia dengan tegas tidak menyetujui dogma ptolomaus tentang sifat immobilitas apogee tata surya (ptolomaic dogma of the immobility of the solar apogee) dengan menunjukan bahwa yang demikian merupakan subjek bagi perubahan siang-malam yangterjadi lebih awal pada tiap tahun berturut-turut (subjec to the equanoxes) dan bahwa dengan berpegang pada persamaan waktu merupakan subjek bagi variasi sekuler yang lambat. Kebalikan dari Ptolomeus, al-Battani membuktikan adanya variasi diameter angular yang tampak darii matahari serta kemungkina terjadinya gerhana-gerhana yang berbentuk seperti cincin. Al-Battani juga meralat kesalah beberapa orbit bulan dan planet-planet lain. Disamping itu, ia juga mengemukakan suatu teori baru serta mengoreksi dan membetulkan nilai presesi ekinok yang didapatkan ptolomeus. Ia mencatat presesi 54,5” untuk satu tahun, dan inklinasi ekliptika 23035”. Jadi poros bumi berputar dalam suatu lingkaran berpusat pada kutub ekliptika, dengan jari-jari 23035”, sedangkan periode yang diperlukan adalah 54,5” busur tiap malam.[7]

  1. Abu al-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni.(973-1048 M)

Al-biruni bersama Ibnu Hubal, al-Maqrizi, Istkhri, al-Idrisi, dan Abu al-Fida telah berhasil mengembangkan segi matematika dan geografi. Al-birunilah yang memperkenalkan pengukuran-pengukkuran geodetik serta serta menentukan dengan teliti dan cermat koordinat-koordinat dari banyak tempat. Dia juga berjasa menentukan arah kiblat dengan bantuan astronomi dan matematika. Dalam kitab al-Atsar al-Bakiyya al-Qurun al-Khaliyah,salah satu buku karangannya, Albiruni membahas sejarah India yang telah ia tulis dalam pengembaraannya keseluruh pelosok negeri India dalam rangka mencari ilmu. Dari buku ini Al-Biruni diketahui telah mengembangkan gagasan para ilmuwan Baghdad yang menggantikan pengetahuan-pengetahuan orang-orang hindu yang masih primitif dan memiliki ahli-ahli astronomi sendiri. Pengaruh astronomi Yunani ternyata melekat kuat pada mereka yang pengetahuan astronominya masih terikat pada dogma. Mereka justru menjadikanya sebagai bahan penelitian yang tidak terpengaruh oleh faham-faham dogmatis. Selain yang telah disebutkan diatas, masih banyak lagi karyanya yang mencapai 180 buah, 42 diantaranya ditulis bersama orang lain. Adapun penemuan ilmiyahnya yang sangat populer adalah teori Heliosentris dan penentuan arah qiblat dengan perhitungan yang cukup rumit.[8]

Masa Dinasti Mughal (656-925 H)

Pada masa ini perkembangan ilmu pengetahuan tidak sepesat ketika dinasti Abbasiyah berkuasa. Tidak sedikit buku-buku yang hilang atau rusak, banyaknya ilmuan-ilmuan yang melakukan penyelewengan terhadap keilmuan mereka. Misalnya ahli falak hanya mengutak-atik masalah waktu sembahyang akan tetapi ilmu bintang mereka biarkan dipelajari oleh tukan tenung untuk menjadi alat penipu manusia.[9] Diantara ahli astonomu yang hidup pada zaman ini adalah:

  1. Quthbudin Mahmud asy-Syirazy (wafat tahun 710 H). diantantara karyanya adalah Nihayah al-Idrak fi Dirayah al-Aflak.
  2. Ibnu Al-Banna Al-Marakisy (wafat tahun 721 H). diantara kitab karangannya adalah Talkhis A’mal Al-Hisab dan Al-Manak fi Ma’rifah Awail Al-Syuhur.
  3. Ibnu Haim Al-Fardly Syahabddin (wafat tahun 815 H). diantara kitab karangannya yang termasyhur adalah Mursyid Al-Thalib ila Asna Al-Mathalib (tentang berhitung) dan Al-Mughni fi Al-Jabar.
  4. Shahabuddin bin Thibagha Al-Qahiri(wafat tahun 805 H). diantara karanganya adalah Khulashah Al-Aqwa fi Ma’rifah Al-Waktu wa Rukyah.
  5. Badaruddin Muhammad Sabath Al-Maridiny (wafat tahun 891 H). diantara kitabnya yang terkenal adalah: Tufhah Al-Albab fi Ilmi Hisab. [10]

Perkembangan hisab rukyah di Indonesia

Ilmu astronomi sudah berkembang di Indonesia sejak tahun 78 Masehi. Tepatnya pada hari Sabtu, 14 maret 78 M, yakni tahun penobatan Prabu Syaliwohono (Aji Soko) yang menjadi awal mula perhitungan tahun soko/saka. Perhitungan pada tahun saka didasarkan pada peredaran matahari. Kalender ini adalah kalender yang digunakan umat Budha di Bali guna mengatur kehidupan masyarakat dan agama. Namun pada tahun 1043 H/1633 M sultan Agung mengubah data yang digunakan tahun soko dari peredaran matahari ke peredaran bulan.[11]

Ilmu astronomi yang berkaitan dengan prosesi ibadah umat islam (falak) mulai berkembang di Indonesia pada awal abad XX, seiring dengan kepulangan orang-orang islam Indonesia dari negeri Arab. Diantara orang yang berperan mengembangkan ilmu falak di Indonesia pertamakalinya adalah Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Misri pada tahun (1314H/ 1896 M) dengan membawa kitab Zaij karya Ulugh Bek dan mengajarkanya pada para ulama di Indonesia. Diantara pada ulama yang belajar padanya adalah Ahmad Dahlan dari Semarang(w.1329 H/1911 M) dengan karyanya yang berjudul “Tadzkiratu al-Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wa al-‘Amal falakiyah bi Semarang”.dan Habib Usman bin Abdillah bin ‘aqil bin Yahya yang dikenal dengan julukan Mufti Betawi kemudian murid dari Habib Usman yang bernama Muhammad Mansur bin Abdul Hamid mengarang kitab berjudul “Sulam Al-Nayyirain fi Ma’rifah al-Ijtima’ wa al-Kusufain” .[12] Kitab ini merupakan salah satu kitab falak terpopuler di Indonesia.

Pada masa selanjutnya, Muhammad Mukhtar bin Atarid menulis sebuah buku yang berjudul Taqribul Maqsod fi al-Amal bi rub’ al-mujayab. Buku ini baru selesai pada tanggal 10 sya’ban 1308 H di makah dan baru diternbitkan pada hari kamis, 20 rajab 1331H/ 26 juni 1913 M. buku lain yang mkembawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilnmu falak di Indonesia adalah Al-Mathla’ asl-Said di hisabah al-kawakib al rasyd al-jadid karya husain zaid (mesir) yang dibawa pulang oleh salah satu jama’ah haji.[13]

Pada tahun 1930-an, bangkitla seorang ahli falak asal Jombang, Jawa timur bernama Maksun ali al-maksumambangi al-jawi (w. 1351/1933 H). Dia mengarang sebuah buku yang berjudul Badi’atul Misal fi Ma’rifah Al-Sinin wal Hilal. Kitab ni membahas perhitungan penanggalan ssecara urfi dan perbandingan tarikh serta memeuat perhitungan awal bulan yang mencakup ijtima’ , irtif’ al-hilal manzilah al-qomar , azimut qamar serta nurul hilal. Walaupun masih banyak kekurangan , akan tetapi hisab pada kitab ini sudah termasuk golongan hisab hakiki tahkiki. Kemudian Zubair Umar al-Zailani (3(w. 1354 H/1935 M0 mengrangg suebuah buku yang berjudul Al-Khulashoh Al-Wafiyah fi Al-Falak bi Al-Jadwal Al-Lugaharitmiyyah yang dicetak oleh percetakan melati pada tahun 1354/935 M dan direvisi dan dicetak ulang oleh percetakan menara kudus pada tahun 1995. Kitab ini memuat tentang perhitungan penanggalan secara urfi, pengetahuan teoritis falakiyah yang meliputi sekilas pendapat para ahli astronoi tempo dulu; pergerakan bumi, bulan, dan planet-planet; perhitungan waktu shalat; perhitungan arah qiblat; perhitungan awal bulan yang meliputi ijtima’, irtifa’ hilal, arah hilal, umur hilal, dan nurul hilal; perhitungan gerhana matahari dan bulan. [14]

Ilmu falak dengan menggunakan data astonomi kontemporer seperti Almanak Nautika dari Amerika dan Ephemeris dari Uni Soviet baru muncul pada tahun 1970-an yang dipelopori oleh Saadoe’ddin Djambek atau datuk Sampono Radjo(1329 -1397 H/1911-1977 M). Kendala Saadoe’ddin Djambek dalam menggunakan data ini adalah data ini hanya diterbitkan 1 tahun sekali dan sering mengalami keterlambatan. Pada tahun 1975, Abdur Rachim mencoba mengatasi kendaka diatas dengan menyusun dua buah buku berjudul “Ilmu Falak”dan “Perhitungan Awal Bulan dan Gerhana Matahari” yang dikalangan ahli falak Indonesia lebih dikenal dengan sistem “Newcomb”

Untuk lebih mempermudah penggunaan ilmu falak, Drs.H. Taufik beserta putranya atas biaya Departemen Agama RI menyusun program software data astronomi yang dikenal dengan “Hisab for Windows versi 1.0”. Kemudian program ini disempurnakan pada tahun 1998 dengan nama”WinHisab versi 2.0” dengan hak lisensi pada Badan Hisab rukyat Departemen Agama RI. Program lain dalam bidang ilmu falak di Indonesia adalah “Mawakit” oleh ICMI Korwil Belanda pada tahun 1993, program “Falakiyah Najmi” oleh Nuril Fu’ad pada tahun 1995, program “Astinfo” oleh jurusan Astronomi MIPA ITB pada tahun 1996, program “Badi’atul Misal" tahun 2000 dan program Ahillah, Misal, Pangetan dan Tsaqib pada tahun 2004 oleh Muhyiddin Khazin, “Mawaqit versi 2002” oleh Hafid pada tahun 2002 dan lain-lain.[15]

Kesmpulan

ü ilmu falak adalah ilmu yang mempelajari tata matahari, bulan, bintang, dan planet-planet lain[16] yang bertujuan untuk mengetahui posisi benda langit agar waktu-waktu dipermukaan bumi dapat diketahui.

ü Ilmu falak begitu muncul pada masa Nabi Muhammad saw. Dan Shahabatnya.

ü Ilmu falak baru mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa daulah Bani Abasiyah

ü Perhitungan tahun telah ada sejak abad I masehi di Indonesia, akan tetapi baru pada abad XVII ilmu falak dengan konsep keislaman muncul di Indonesia.

ü Seiring dengan kemajuan peradaban manusia, muncullah berbagai software astronomi yang sangat praktis seperti“Mawakit”,Astinfo”, Badi’atul Misal", dan Mawaqit versi 2002”.

Penutup

Kesadaran penulis sebagai manusia berdosa dan berkompeten dalam kesalahan, mendorong penulis meminta maaf jika terdapat berbagai macam kesalahan. Oleh karenanya penulis sangat mengharapkan saran dan kritik konstruktif dari pembaca yang budiman dan diridloi Allah swt. guna tercapainya sebuah karya dengan sedkit cacat. Amien.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, kumpulan software kitab.

Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, cet. II, 1979.

Izzuddin, Ahmad, Ilmu Falak Praktis, Semarang: Komala Grafika dengan IAIN Walisongo, 2006.

Khazin, Muhyiddin, Kamus Ilmu Falak, Yogyakarta: Buana Pustaka, cet.I, 2005.

M. Natsir Arsyad, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah, Bandung: Mizan, cet.IV, 1995.

-----------------------, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta: Buana Pustaka, cet.III.

Sugono, Dendy, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa 2008.

Munawir, Ahmad Warson, Kamus Al-Munawir,Surabaya: pustaka Progresif, cet 25 tahun 2002.



[1] Ahmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawir,Surabaya: pustaka Progresif, cet 25 tahun 2002, hal . 1072.

[2] Dendy Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa 2008, hal..100.

[3] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, kumpulan software kitab, bab puasa, hadist nomor 1814.

[4] Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis, Semarang: Komala Grafika dengan IAIN Walisongo, 2006, hal. 7-8.

[5] A.Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, cet. II, 1979, hal. 294-297.

[6] Muhyiddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Yogyakarta: Buana Pustaka, cet.I, 2005, hal. 97.

[7] Baca M. Natsir Arsyad, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah, Bandung: Mizan, cet.IV, 1995, hal. 74-82

[8] Baca Ibiid, hal. 147-158.

[9] [9]Baca.Hasjmy, op.cit. 393-398.

[10] Ibid. Hal. 407-408.

[11] Ahmad Izzuddin, op.cit, hal.12-13.

[12] Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta: Buana Pustaka, cet.III.hal. 28-29.

[13],Ibid, hal. 29.

[14] Ibid. 31-32.

[15] Ibid.36-37.

[16] Dendy Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa 2008, hal..100.

1 komentar: